Kamis, 19 Mei 2011

Pak Pram !

"Lelaki, gus, soal makan, entah daun, entah daging. Asal kau mengerti, gus, semakin tinggi sekolah bukan berarti semakin menghabiskan makanan orang lain. Harus semakin mengenal batas. Kan itu tidak terlalu sulit difahami? Kalau orang tak tahu batas, Tuhan akan memaksanya tahu dengan caraNya sendiri."             (Bumi Manusia)
"...Kasihan hanya perasaan orang berkemauan baik yang tidak mampu berbuat. Kasihan hanya satu kemewahan, atau satu kelemahan. Yang terpuji memang dia yang mampu melakukan kemauan baiknya..." (Bumi Manusia)
 "Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri, bersuka karena usahanya sendiri, dan maju karena pengalamannya sendiri" (Bumi Manusia)
 "Tak pernah ada perang untuk perang. Ada banyak bangsa yang berperang bukan hendak keluar sebagai pemenang. Mereka turun ke medan perang dan berguguran berkeping-keping seperti bangsa Aceh sekarang ini...ada sesuatu yang dibela, sesuatu yang lebih berharga daripada hanya mati, hidup atau kalah-menang". (Jean Marais) 
“Kita semua harus menerima kenyataan, tapi menerima kenyataan saja adlh pekerjaan manusia yang tak mampu lagi berkembang, karena manusia juga bisa membuat kenyataan-kenyataan baru. Kalau tak ada orang mau membikin kenyataan-kenyataan baru, maka kemajuan sebagai kata dan makna sepatutnya dihapuskan dari kamus umat manusia.”
( Rumah Kaca)
 Penasaran? oke, tolong jangan ribut, aku mau jelasin.. Tulisan-tulisan di atas merupakan karyanya Pak Pram, Siapa Pak Pram? Di bawah ini ada sedikit profil dan photo beliau yang aku dapat dari wikipedia :
Pramoedya Ananta Toer adalah salah satu satrawan besar yang pernah dimiliki oleh Indonesia. Dilahirkan di Blora, 6 Februari 1925 telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan dalam 41 bahasa asing.
Putra sulung dari M. Toer, seorang kepala sekolah Institut Boedi Oetomo ini mengikuti jejak orang tuanya dengan menjadi guru. Sempat pula bekerja sebagai juru ketik dan korektor di kantor berita Domei (LKBN ANTARA semasa pendudukan Jepang) tetapi kemudian memantapkan pilihan sebagai penulis yang akhirnya melahirkan banyak karya besar. 
 Beberapa karya besar dari Pramoedya antara lain TETRALOGI PULAU BURU : BUMI MANUSIA, ANAK SEMUA BANGSA, JEJAK LANGKAH DAN RUMAH KACA, terbit antara 1980 hingga 1988 namun selama beberapa tahun ketika masa orde baru Kejaksaan Agung RI melarang peredarannya.
Pramoedya menerima banyak penghargaan atas karya-karyanya, antara lain dari UNESCO, The Wertheim Foundation (Belanda), Ramon Magsaysay Award Foundation (Filipina), University of Michigan, University of California (AS), Le Ministre de la Culture et de la Communication Republique Francaise (Perancis) hingga Fukuoka Cultural Grand Prize (Jepang).
Karya Pramoedya yang sarat kritik sosial membuatnya keluar masuk penjara. Pada April 2006 kesehatan Pramoedya semakin memburuk. Upaya keluarga untuk merujuknya ke rumah sakit tidak membawa banyak hasil, malah kondisinya semakin memburuk dan akhirnya meninggal pada 30 April 2006 di Jakarta. 
Beliau betul-betul seorang penulis yang hebat menurut aku, terserah jika memang ada beberapa orang yang memiliki pendapat berbeda terhadap beliau, aku melihat dalam cara beliau menulis! Beliau mampu menyelesaikan beberapa buku dalam penjara, dalam ruang yang sempit beliau mampu mendapatkan pemikiran luas, dalam ruang kurungan beliau mapu membebaskan imaji dalam menulis!  
Semoga kelak akan ada generasi muda yang mampu menulis seperti Pak Pram, bukan terlahir sebagai Preman! Semoga ada generasi muda yang mau menulis bukan untuk dibeli, menulis karena kalian tau itu benar..
"Kau, Nak, paling sedikit harus bisa berteriak. Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapapun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari." Kata-kata Nyai Ontosoroh kepada Minke dalam Anak Semua Bangsa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar